#4 TIGA MACAM GOLONGAN ULAMA

#4 TIGA MACAM GOLONGAN ULAMA

TIGA MACAM GOLONGAN ULAMA

واعلم ان الناس فی طلب العلم علی ثلاثۃ احوال, رجل طلب العلمَ ليتخذه زاده الی المعاد ولم يقصد به الاوجهﷲ والدار الآخرۃ فهذا من الفاءزين
ْ
Ketahuilah olehmu, sesungguhnya manusia didalam menuntut ilmu itu ada tiga macam tujuan;

– Yang Pertama, yaitu orang yang menuntut ilmu dengan tujuan menjadikan ilmunya sebagai bekal saat akan menghadap Allah, (dengan mengamalkannya) dan tujuannya ikhlas hanya karena Allah semata, serta mencari kebahagiaan di akherat kelak.

Dan golongan ini adalah orang-orang yang akan beruntung, yakni orang-orang yang akan selamat dari adzab Allah.

ورجل طلبه ليستعين به علی حياته العاجلۃ وينال به العز والجاه والمال وهو عالم بذلك مستشعر فی قلبه ركاكۃ حاله وخسۃ مقصده،

– Yang kedua, yaitu orang yang menuntut ilmu dengan tujuan kepandaiannya ini bisa membantunya dalam kepentingan dunia fana ini, dan agar dapat memperoleh pangkat dan jabatan serta mengumpulkan harta dunia. Sementara dirinya tahu bahwa itu memang salah, bahkan dia menyadari sepenuh hati akan kesalahan dan kelemahannya ini, dan rendahnya tujuan dan cita-citanya dalam menuntut ilmu.

فهذا من المخاطرين فان عاجله أجلُه قبل التوبۃ خِيفَ عليه من سوءالخاتمۃ وبقی امره فی خطر المَشِيْءَۃِ،

Dan orang-orang yang seperti ini adalah masuk pada golongan orang-orang yang dikhawatirkan, yakni apabila datang ajal padanya sebelum dia bertaubat, dikhawatirkan dia mati suu ulkhotimah (tidak membawa tetapnya iman dan islam) Walau semua tetap tergantung kehendak Allah, (siapa tahu Allah akan mengampuninya karena kesadarannya akan kekeliruannya), Tapi urusan (diakhir hayatnya) tetap sangatlah menghawatirkan dan meragukan.

وان وفق للتوبۃ قبل حلول الاجل وأضاف الی العلم العمل وتدارك مافرط من الخلل, اُلْتُحِقَ بالفاءزين، فان التاءب من الذنوب كمن لاذنب له.

Dan apabila dengan kehendak Allah dia bisa bertaubat, sebelum ajal datang menjemputnya, Kemudian dia bersegera dan fokus dalam mengamalkan ilmunya, dan bersegera dalam beramal menyusuli dan menutupi kekurangannya, atas kelalaian yg ia lakukan, Maka dia akan disusulkan pada golongan orang-orang yang beruntung, Karena sesungguhnya orang-orang yang bertaubat dari dosa-dosanya, maka dia laksana orang yang tiada dosa baginya.

ورجل ثالث استحوذ عليه الشيطان فاتخذ علمَه ذريعۃ الی التكاثر بالمال والتفاخر بالجاه والتعزز بكثرۃ الاتباع، ويدخل بعلمه كل مدخل رجاء أن يقضی من الدنيا وطره، وهو مع ذلك يضمر فی نفسه انه عندﷲ بمكانه لِاتِّسَامه بسمۃ العلماء وترسمهم برسومهم فی الزی والمنطق مع تكالبه علی الدنيا ظاهرا وباطنا.

– Yang Ketiga, yaitu orang-orang yang telah ditaklukan oleh syaitan. Sehingga ia menjadikan ilmunya sebagai sarana untuk menumpuk-numpuk harta dunia, dan berbangga-bangga dengan pangkat dan jabatan, dan merasa menjadi manusia yang hebat karena banyak pengikutnya.

Sehingga dengan berbekal ilmu dan penampilannya, dimana ada kesempatan dia akan memasukinya walaupun dalam hal-hal yang makar, dengan tujuan untuk mengeruk harta dunia dengan berbagai cara tanpa peduli.

Dan walaupun demikian tindakan yang dia lakukan dirinya tetap merasa sebagai orang yang bernilai tinggi disisi Allah, Karena dia merasa mempunyai sebutan sebagai ulama dan orang yang terkemuka dalam agama.

Dan dengan adanya penampilannya yang tampaknya menandakan dia adalah orang yang terkemuka dalam agama, serta dengan modal nada bahasa dan bicaranya, Sementara yang ada dalam pikirannya maupun hatinya adalah hanya mengejar harta dan tahta.

فهذا من الهالكين ومن الحمقٰی المغرورين اذِالرجاء منقطع عن توبته لظنه انه من المحسنين، وهو غافل عن قوله تعالی (ياأيهاالذين آمنوا لم تقولون ما لاتفعلون )

Dan golongan ketiga ini adalah golongan orang-orang yang mendapatkan kerusakan dan kebinasaan. Dan golongan orang yang pendek akalnya yang telah terpedaya (tertipu).

Kalau sudah demikian halnya, harapan untuk bertaubat sudah tidak ada lagi. Karena dia tetap merasa dan menyangka bahwa dirinya adalah golongan orang-orang yang berbuat kebaikan dan dijalan kebenaran.

Dan golongan ketiga ini sudah lupa dengan firman Allah yang menyatakan: “Wahai orang-orang yang beriman, untuk apa kau mengatakan (mengajarkan) sesuatu yang kamu sendiri tidak pernah menjalaninya”.

وهو ممن قال فيهم رسولﷲﷺ أنا من غير الدجال أخوف عليكم من الدجال، فقيل وما هو يارسولﷲ؟، فقال علماء السوء

Dan golongan ini termasuk dari golongan yang disabdakan oleh Rosululloh, yakni: “Aku bahkan lebih takut pada yang selain dajal, dari pada dajal itu sendiri”,

Sahabat bertanya: “Siapa dia ya rosul?” Beliau menjawab: “Mereka adalah para ulama assu’ (yang buruk akhlaknya)”, yakni orang-orang munafik yang banyak omongnya saja, padahal hatinya jahil (bodoh), dan jauh dari pengamalan ilmunya.

وكما قال ان اخوفَ ما أخاف علی امتی كل منافق عليم اللسان (رواه احمد) شرح

Dan sebagaimana sabda beliau: “Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas umatku adalah orang-orang yang hanya pandai dalam hal bicara saja -padahal tingkah lakunya Nol besar-. (HR. Imam Ahmad).—Syarah.

وهذا لِاَن الدجال غايته الاضلال ومثل هذا العالم واِنْ صرف الناسَ عن الدنيا بلسانه ومقاله فهو داع لهم اليها باعماله واحواله،

Adapun kenapa ulama assu’ lebih menakutkan dan menghawatirkan daripada dajal, Karena puncak tujuan dajal adalah menyesatkan belaka. Sementara orang-orang yang seperti mereka ini, walaupun secara lesan dan ucapannya dia mengajak pada manusia untuk menjauhi duniawi, tapi kenyataannya dia mengajak manusia untuk mengejar dan mengutamakan duniawi, dengan lantaran amal perbuatannya.

ولسان الحال أفصح من لسان المقال, وطباع الناس الی المساعدۃ فی الاعمال أمْيَلُ منها الی المتابعۃ فی الاقوال،

Sementara lisanul haal (bahasa perbuatan atau contoh yang berupa perbuatan) itu lebih jelas (mudah di tiru) daripada bahasa lisan (sekedar ucapan saja).

Sedangkan watak manusia pada umumnya, itu lebih cenderung untuk memahami dan mudah mengikuti serta mudah menirukan perbuatan. Daripada cenderung mengikuti tuntunan yang hanya berupa ucapan belaka.

فما افسده هذاالمغرورُ بأعماله أكثر مما اصلحه بأقواله، اذ لا يستجریء الجاهل علی الرغبۃ فی الدنيا الا باسْتِجرَاء العلماء.

Maka dari itu dampak kerusakan yang diakibatkan oleh perbuatan para ulama assu’, itu lebih banyak, daripada kemaslahatan yg ditimbulkan lewat ucapan-ucapannya. Karena sesungguhnya tidak ada keberanian bagi orang yang jahil, untuk mengejar dan cinta dunia, kecuali sebab beraninya para ulama akan hal itu.

فقد صار علمُه سببا لجَراءۃ عبادﷲ علی معاصيه، ونفسه الجاهلۃ مُدِلَّۃً مع ذلك تمنيه وترجيه وتدعوه الی ان يمن علی ﷲ بعلمه وتخيَّلُ اليه نفسُه انه خير من كثير من عبادﷲ.

Dengan demikian, maka ilmunya dan amal perbuatannya ulama assu’, itu menjadi penyebab keberanian hamba-hamba Allah dalam berbuat maksiat pada-Nya, (yakni secara tidak langsung dia telah membantu dan mengarahkan manusia pada perbuatan maksiat).

Sementara nafsu (pikiran) ulama assu’ itu selalu memanjakannya dengan adanya angan-angan yang tinggi (bahwa kelak dia akan mendapatkan sorga dan pahala yang agung disisi Allah), dan dengan adanya harapan-harapan (kesuksesan dunia dan banyaknya pengikut), dan dengan adanya rasa percaya diri melebihi siapapun dengan ketinggian ilmunya. Bahkan sampai lupa bahwa Allah itu diatas segala-galanya, serta memanjakanya dengan adanya hayalan yang tinggi, dengan merasa dia itu lebih baik dari kebanyakan hamba-hamba Allah yang lain. Dikarenakan banyaknya ilmu yang telah dikuasainya.

 

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply